Selasa, 10 Mei 2016

MPSSGI MEMBANGUN KECERDASAN






MPSSGI dalam melakukan kegiatannya terus membenahi jiwa ,raga manusia dengan dengan latihan latihan bersifat jasmani dan rohani.Latihan latihan yang bersifat jasmani akan menunjang kecerdasan intelektual,kecerdasan emosi dan spritual.Eksperimen eksperimen yang telah dilakukan oleh MPSSGI menunjukkan hasih yang cukup signifikan terhahap tubuh yang telah dibangkitkan gerak getaran gelombang elektrmagnetiknya.Beberapa hasil setelah melakukan latihan latihan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1-Gelombang Elekromagnetik tubuh dapat merangsang otak kiri manusia ,sehingga dapat memperkuat nalar,hapalan,ingatan dan kecerdasan intelektual ( IQ ).

2-Gelombang Elektromagnetik tubuh dapat merangsang otak kanan manusia
sehingga dapat merangsang intuisi atau indra ke enam menjadi lebih kuat dan tajam.

2-Gelombang Elektromagnetik tubuh dapat merangsang otak bagian belakang manusia sehingga memiliki kecerdasan emosi ( EQ) seperti memiliki emosi yang matang dalam berkata dan bertindak,meredam amarah dan lain lain.

3-Gelombang Elektromagnetik tubuh dengan getaran gelombangnya dapat mensingkronkan Itelektual dan emosi,untuk membangun spritual manusia berdasarkan keyakinan,kepercayaan yang dianut.

Ketenangan jiwa dari kecerdasan intelektual,kecerdasan emosi  adalah pondasi yang dapat mempertebal keyakinan terhadap agama,dengan kecerdasan intelektual manusia dapat menggunakan anugrah tersebut untuk mengerti hukum hukum agama,dan dengan kecerdasan emosi manusia dapat mengerti tentang ajaran akhlak,susila,dan prilaku yang sesuai dengan agama.

Oleh sebab itu MPSSGI dalam setiap latihannya ,melalui gerak getaran gelombang elektromagnetik tubuh yang sudah kuat dan ideal mengadakan rangsangan terhadap organ organ tubuh ,seperti otak dengan bagian bagian untuk mempertajam intelektual,intuisi dan menyeimbangkan emosi,sehinggga tercipta kecerdasan spritual yang kuat.

Natural Magnetik Tubuh yang mengandung gerak getaran gelombang Elektromagnetik ,merupakan potensi atau fitrah yang dianugrahkan oleh Yang Maha Agung,oleh MPSSGI didayagunakan untuk membangun kecerdasan intelektual,kecerdasan emosi untu mencapai kecerdasan spritual yang paripurna sesuai dengan ajaran agama.

Mengacu pada teori motivasi yang dikemukakan Maslow, kecerdasan spiritual terkait dengan aktualisasi diri atau pemenuhan tujuan hidup, yang merupakan tingkatan motivasi yang tertinggi. Kecerdasan spiritual yang tinggi ditandai dengan adanya pertumbuhan dan transformasi pada diri seseorang, tercapainya kehidupan yang berimbang antara karier/pekerjaan dan pribadi/keluarga, serta adanya perasaan suka cita serta puas yang diwujudkan dalam bentuk menghasilkan kontribusi yang positif dan berbagi kebahagiaan kepada lingkungan.

SQ walaupun mengandung kata spiritual tidak selalu terkait dengan kepercayaan atau agama. SQ lebih kepada kebutuhan dan kemampuan manusia untuk menemukan arti dan menghasilkan nilai melalui pengalaman yang mereka hadapi. Akan tetapi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan atau menjalankan agama,umumnya memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kepercayaan atau tidak menjalankan agama.

Seperti misalnya penelitian yang dilakukan Harold G Koenig dan kawan-kawan yang telah dipublikasikan Oxford University Press dalam bentuk buku berjudul Handbook of Religion and Health. Penelitian yang mereka lakukan menemukan bahwa di setiap tingkatan pendidikan dan usia, orang yang pergi ke rumah ibadah, berdoa dan membaca kitab suci secara rutin, ternyata hidup lebih lama sekitar tujuh hingga 14 tahun dan memiliki kesehatan fisik yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang tidak menjalan kan ritual keagamaan.

Hasil Penelitian para psikolog USA menyimpulkan bahwa Kesuksesan dan Keberhasilan seseorang didalam menjalani Kehidupan sangat didukung oleh Kecerdasan Emosional (EQ – 80 %), sedangkan peranan Kecerdasan Intelektual (IQ) hanya 20 % saja. Dimana ternyata Pusatnya IQ dan EQ adalah Kecerdasan Spiritual (SQ), sehingga diyakini bahwa SQ yang menentukan Kesuksesan dan Keberhasilan Seseorang. Dalam hal ini IQ dan EQ akan bisa berfungsi secara Baik/Efektif jika dikendalikan oleh SQ.

Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh Pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani.

Ternyata setelah disadari oleh manusia, bahagia sebagai sebuah perasaan subyektif lebih banyak ditentukan dengan rasa bermakna. Rasa bermakna bagi manusia lain, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia yaitu Tuhan. Manusia mencari makna, inilah penjelasan mengapa dalam dalam keadaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna, dan ini tidak identik dengan mencapai cita-cita.

Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Ada yang merasa hidupnya bermakna dengan menyelamatkan anjing laut. Ada yang merasa bermakna dengan membuat lukisan indah. Bahkan ada yang merasa mendapatkan makna hidup dengan menempuh bahaya. pencarian makana bagi perawat seharusnya mampu mengaitkan pemberian pelayanan keperawatan atas dasar kekuatan Yang Maha Kuasa dan pertolongan bagi manusia yang membutuhkan. Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Ada kesan yang salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini ‘tampak’ kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin.

Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata banyak yang sangat religius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa para orang sukses sejati menyumbangkan minimal 10 persen dari pendapatan kotor untuk kegiatan amal, bahkan saat dulu mereka masih miskin. Mereka menyadari bahwa kekayaan mereka hanyalah titipan dari Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar