Senin, 16 Januari 2017






SERAT WEDATAMA


Serat Wedhatama adalah Sastra tembang atau kidungan jawa karya Mangkunegara IV Wedhatama (berasal dalam bahasa  Jawa; Wredhatama) yang berarti serat (tulisan/karya) wedha (Ajaran) tama (keutamaan/utama). Serat Wedhatama terbagi menjadi 4 pupuh yaitu : pangkur, sinom, pucung, gambuh.

Nah, kali ini kita akan membahas tentang Pupuh Gambuh, yang terdiri dari 35 pada (bait). Dalam Pupuh Gambuh mengajarkan untuk mengungkapkan limpahan anugerah Tuhan YME harus ditebus dengan penghayatan mutlak, didasarkan pada kesucian batin, menjauhkan diri dari watak angkara murka (sifat egois yang berlebih-lebihan), serta ketekunan melakukan sembahyang. Langsung saja kita simak pupuh gambuh dan terjemahan bebasnya serta gancarannya berikut ini.


Pada 1

Samengko ingsun tutur,
sembah catur supaya lumuntur,
dihin raga, cipta jiwa, rasa, kaki,
ing kono lamun tinemu,
tandha nugrahaning Manon.

Kelak saya bertutur, Empat macam sembah supaya dilestarikan; Pertama; sembah raga, kedua; sembah cipta, ketiga; sembah jiwa, dan keempat; sembah rasa, anakku ! Di situlah akan bertemu dengan pertanda anugrah Tuhan.


Pada 2

Sembah raga puniku,
pakartine wong amagang laku,
susucine asarana saking warih,
kang wus lumrah limang wektu,
wantu wataking wawaton.

Sembah raga adalah Perbuatan orang yang lagi magang “olah batin” Menyucikan diri dengan sarana air,Yang sudah lumrah misalnya lima waktu Sebagai rasa menghormat waktu


Pada 3

Inguni-uni  ersua,
sinarawung wulang kang sinerung,
lagi iki bangsa kas ngetok-ken anggit,
mintoken kawignyanipun,
sarengate elok-elok.

Zaman dahulu belumpernah dikenal ajaran yang penuh tabir,Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan,memamerkan ke-bisa-an nya amalannya aneh aneh

Pada 4

Thithik kaya santri Dul,
gajeg kaya santri brahi kidul,
saurute Pacitan pinggir pasisir,
ewon wong kang padha nggugu,
anggere guru nyalemong.

Kadang seperti santri “Dul”  (gundul)Bila tak salah, seperti santri wilayah selatanSepanjang Pacitan tepi pantaiRibuan orang yang percaya. Asal-asalan dalam berucap


Pada 5

Kasusu arsa weruh,
cahyaning Hyang kinira yen karuh,
ngarep-arep urup arsa den kurebi,
Tan wruh kang mangkoko iku,
akale keliru enggon.

Keburu ingin tahu,cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan,Menanti-nanti besar keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mataOrang tidak paham yang demikian ituNalarnya sudah salah kaprah


Pada 6

Yen ta jaman rumuhun,
tata titi tumrah tumaruntun,
bangsa srengat tan winor lan laku batin,
dadi ora gawe bingung, kang padha nembah Hyang Manon.

Bila zaman dahulu,Tertib teratur runtut harmonissariat tidak dicampur aduk dengan olah batin, jadi tidak membuat bingung bagi yang menyembah Tuhan


Pada 7

Lire sarengat iku,
kena uga ingaranan laku,
dihin ajeg kapindhone ataberi,
pakolehe putraningsun,
nyenyeger badan mwih kaot.

Sesungguhnya sariat itu dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun.Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan agar lebih baik,


Pada 8

Wong seger badanipun,
otot daging kulit balung sungsum,
tumrah ing rah memarah antenging ati,
antenging ati nunungku,
angruwat ruweting batos.

Badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar,Mempengaruhi darah, membuat tenang di hati.Ketenangan hati membantu Membersihkan kekusutan batin


Pada 9

Mangkono mungguh ingsun,
ananging ta sarehne asnafun,
beda-beda panduk panduming dumadi,
sayektine nora jumbuh,
tekad kang padha linakon.

Begitulah menurut ku !Tetapi karena orang itu berbeda-beda,Beda pula garis nasib dari Tuhan.Sebenarnya tidak cocok tekad yang pada dijalankan itu


Pada 10

Nanging ta paksa tutur,
rehning tuwa tuwase mung catur,
bok lumuntur lantaraning reh utami,
sing sapa temen tinemu,
nugraha geming Kaprabon.

Namun terpaksa  ersua nasehatKarena sudah tua kewajibannya hanya  ersua petuah.Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama.Barang siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan.


Pada 11

Samengko sembah kalbu,
yen lumintu uga dadi laku,
laku agung kang kagungan Narapati,
patitis tetesing kawruh,
meruhi marang kang momong.

Berikutnya, sembah kalbu itujika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual.Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja.Tujuan ajaran ilmu ini; untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)


Pada 12

Sucine tanpa banyu,
mung nyenyuda mring  ersuasi kalbu,
pambukane tata, titi, ngati-ati
atetetp talaten atul,
tuladhan marang waspaos.

Bersucinya tidak menggunakan airHanya menahan nafsu di hatiDimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada)Teguh, sabar dan tekun,semua menjadi watak dasar,Teladan bagi sikap waspada.


Pada 13

Mring jatining pandulu,
panduk ing ndon dedalan satuhu,
lamun lugu  ersuasi reh maligi,
lageane tumalawung,
wenganing alam kinaot.

Alam penglihatan yang sejati,Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar.Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasiSampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan Itulah, terbukanya “alam lain”


Pada 14

Yen wus kambah kadyeku,
sarat sareh saniskareng laku,
kalakone saka eneng, ening, eling, 
Ilanging rasa tumlawung,
kono adile Hyang Manon.

Bila telah mencapai seperti itu,Saratnya sabar segala tingkah laku.Berhasilnya dengan cara;Membangun kesadaran, mengheningkan cipta,  pusatkan fikiran kepada  ersua Tuhan. Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa  memasuki alam gaib rahasia Tuhan)


Pada 15

Gagare ngunggar kayun,
tan kayungyun mring ayuning kayun,
bangsa anggit yen ginigit nora dadi,
Marma den awas den emut,
mring pamurunging lelakon.

Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu)Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati, Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.Maka awas dan ingat lahdengan yang membuat gagal tujuan


Pada 16

Samengko kang tinutur,
sembah katri kang sayekti katur,
mring Hyang Sukma sukmanen sehari-hari,
arahen dipun kecakup,
sembah ing Jiwa sutengong.

Nanti yang diajarkanSembah ketiga yang sebenarnya  diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa).Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku !


Pada 17

Sayekti luwih prelu,
ingaranan pepuntoning laku,
kalakuan kang tumrap bangsaning batin,
sucine lan Awas Emut, mring alame alam amot.

Sungguh lebih penting, yangdisebut sebagai ujung jalan spiritual,Tingkah laku olah batin, yakni menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.


Pada 18

Ruktine ngangkah ngukut,
ngiket ngrukut triloka kakukut,
jagad agung gimulung lan jagad cilik,
Den kandel kumandel kulup,
mring kelaping alam kono.

Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai.Jagad besar tergulung oleh jagad kecil,Pertebal keyakinanmu anakku !Akan kilaunya alam tersebut.


Pada 19

Keleme mawa limut,
kalamatan jroning alam kanyut,
sanyatane iku kanyatan kaki,
Sajatine yen tan emut,
sayekti tan bisa awor.

Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”,Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan,Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku !Sejatinya jika tidak ingat Sungguh tak bisa “larut”


Pada 20

Pamete saka luyut,
sarwa sareh saliring panganyut,
lamun yitna kayitnan kang mitayani,
tarlen mung pribadinipun,
kang katon tinonton kono.

Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin)Tetap sabar mengikuti “alam  yang menghanyutkan”Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain hanyalah diri pribadinya yang tampak terlihat di situ


Pada 21

Nging away salah surup,
kono ana sajatining Urub,
yeku urup pangarep uriping Budi,
sumirat sirat narawung,
kadya kartika katongton.

Tetapi jangan salah mengerti Di situ ada cahaya sejati Ialah cahaya pembimbing, ersua penghidup akal budi.Bersinar lebih terang dan cemerlang,tampak bagaikan bintang


Pada 22

Yeku wenganing kalbu,
kabukane kang wengku winengku,
wewengkone wis kawengku neng sireki,
nging sira uga kawengku, mring kang pindha kartika byor.

Yaitu membukanya pintu hati Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh).Cahaya itu sudah kau (roh)  kuasaiTapi kau (roh) juga dikuasai oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang.


Pada 23

Samengko ingsun tutur,
gantya sembah ingkang kaping catur,
sembah Rasa karasa rosing dumadi,
dadine wis tanpa tuduh,
mung kalawan kasing Batos.

Nanti ingsun ajarkan,Beralih sembah yang ke empat.Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan.Terjadinya sudah tanpa petunjuk,hanya dengan kesentosaan batin


Pada 24

Kalamun  ersua lugu,
aja pisan wani ngaku-aku,
antuk siku kang mangkono iku kaki,
kena uga wenang muluk,
kalamun wus pada melok.

Apabila belum bisa membawa diri,Jangan sekali-kali berani mengaku-aku,mendapat laknat yang demikian itu anakku !Artinya, seseorang berhak berkata apabila sudah mengetahui dengan nyata.


Pada 25

Meloke ujar iku,
yen wus ilang sumelang ing kalbu, 
ersu kandel kumandel ngandel mring takdir,
iku den awas den emut,
den memet yen arsa momot.

Menghayati pelajaran iniBila sudah hilang keragu-raguan hati.Hanya percaya dengan sungguh-sungguh kepada takdiritu harap diwaspadai, diingat,dicermati bila ingin menguasai seluruhnya.


Pada 26

Pamoring ujar iku,
kudu santosa ing budi teguh,
sarta sabar tawekal legaweng ati,
trima lila ambeh sadu,
weruh wekasing dumados.

Melaksanakan petuah ituHarus kokoh budipekertinyaTeguh serta sabartawakal lapang dada Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya Mengerti “sangkan paraning dumadi”.


Pada 27

Sabarang tindak-tanduk,
tumindake lan sakadaripun,
den ngaksama kasisipaning  ersua,
sumimpanga ing laku dur,  ersuasiv budi kang ngrodon.

Segala tindak tandukdilakukan ala kadarnya, ersua maaf atas kesalahan  ersua,menghindari perbuatan tercela,(dan) watak angkara yang besar.


Pada 28

Dadya wruh iya dudu,
yeku minangka pandaming kalbu, 
ersua buka ing kijab bullah agaib,
sesengkeran kang sinerung,
dumunung telenging batos.

Sehingga tahu baik dan buruk,Demikian itu sebagai ketetapan hati,Yang membuka penghalang/tabir  antara ersua dan Tuhan,Tersimpan dalam rahasia,Terletak di dalam batin.


Pada 29

Rasaning urip iku
krana momor pamoring sawujud,
wujuddullah sumrambah ngalam sakalir,
lir manis kalawan madu, endi arane ing kono.

Rasa hidup itudengan cara manunggal dalam satu wujud,Wujud Tuhan meliputi alam semesta,bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya.


Pada 30

Endi manis endi madu,
yen wis bisa nuksmeng pasang semu,
pasamaoning hebing kang Maha Suci,
kasikep ing tyas kacakup,
kasat mata lair batos.

Mana manis mana madu,apabila sudah bisa menghayati gambaran itu,Bagaimana pengertian sabda Tuhan,Hendaklah digenggam di dalam hati, sudah jelas dipahami secara lahir dan batin.


Pada 31

Ing batin tan keliru,
kedhap kilap liniling ing kalbu,
kang minangka colok celaking Hyang Widi,
widadaning budi sadu,
pandak panduking liru nggon.

Dalam batin tak keliru, Segala cahaya indah dicermati dalam hati, Yang menjadi petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan, Selamatnya karena budi (bebuden)  yang jujur (hilang nafsu), Agar dapat merasuk beralih “tempat”.


Pada 32

Nggonira mrih tulus,
kalaksitaning reh kang rinuruh,
ngayanira mrih wikal warananing gaib,
paranta lamun tan weruh,
sasmita jatining endhog.

Agar usahamu berhasil, Dapat menemukan apa yang dicari, upayamu agar dapat melepas penghalang kegaiban, Apabila kamu tidak paham ; lihatlah tentang bagaimana terjadinya telur.


Pada 33

Putih lan kuningpun,
lamun arsa titah teka mangsul,
dene nora mantra-mantra yen ing lair,
bisa aliru wujud,
kadadeyane ing kono.

Putih dan kuningnya, bila akan mewujud (menetas), wujud datang berganti, tak disangka-sangka, bila kelahirannya dapat berganti wujud, Kejadiannya di situ !


Pada 34

Istingarah tan metu,
lawan istingarah tan lumebu,
dene ing njro wekasane dadi njawi,
raksana kang tuwajuh,
aja kongsi kabasturon.

Dipastikan tidak keluar, juga tidak masuk, Kenyataannya yang di dalam akhirnya menjadi di luar, Rasakan sunguh-sungguh, Jangan sampai terlanjur tak bisa memahami.


Pada 35


Karana yen kebanjur,
kajantaka tumekeng  ersua,
tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi,
dadi wong ina tan wruh,
dheweke den anggep dhayoh.

Sebab apabila sudah terlanjur, akan tak tenang sepanjang hidup, tidak ada gunanya bila kelak mati, Menjadi orang hina yang bodoh, dirinya sendiri malah dianggap tamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar